Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juni 2011

Sudahkah Kita Memuliakan Orang Tua?

Sahabat, ada satu hal yang mungkin sering terlupakan dalam episode kehidupan kita, yaitu keberkahan, kesuksesan, kebahagiaan itu datang dari ridha Ayah dan Ibu kita.

“Keridhaan Allah adalah keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah adalah kemurkaan orangtua.” (Hadis riwayat Tirmizi)

Saat ini mungkin Anda sedang duduk dihadapan layar monitor notebook atau PC Anda, kedua bola mata Anda sedang menelusuri susunan baris demi baris tulisan ini. Sambil Anda terus merasakan kenyamanan tempat duduk Anda, saya ingin mengajak Anda untuk mengenang jasa kedua orang tua kita sejak kita masih dalam kandungan hingga saat ini, kita bisa mengerti dan menikmati ragam teknologi untuk terus meningkatkan kualitas hidup kita.

Dimana orang tua kita saat ini?

Apa kira kira yang sedang mereka lakukan?

Apa ya yang sedang mereka pikirkan sekarang?

Kapan terakhir kali kita mendo’akan mereka dengan ikhlas dan ketulusan hati terdalam?

Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang penting untuk kita jawab dalam hati kita,agar kebaikan dan cinta mereka selalu hidup dalam jiwa kita.

Ayah dan Ibu kita adalah orang-orang yang mulia, bahkan Allah SWT menempatkan mereka pada urutan keutamaan yang tinggi setelah penghambaan kepada-Nya.

“Dan Tuhanmu telah menetapkan keputusan, supaya kamu jangan menyembah kecuali kepada-Nya saja dan juga berbakti terhadap ibu bapa. Jika salah seorang di antaranya atau keduanya sudah lanjut usia, jangan menolak permintaan mereka secara kasar, namun ucapkanlah terhadap mereka perkataan yang sopan santun.” (QS Al-Isra’, ayat 23)

Demikianlah Allah memerintahkan kepada kita agar selalu berbakti kepada kedua orang tua kita. Lebih dari 40 minggu ibu kita membawa kita dalam kandungan beliau, berjalan terasa berat, tidur tak nyaman, sekujur tubuh sering terasa sakit karena menahan nyeri. Namun semua dilalui dengan penuh keikhlasan.

“Dan Kami telah mengamanatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah semakin bertambah lemah juga Maksudnya, derita payah waktu mengandung bukan semakin berkurang, malah sebaliknya semakin bertambah, sebab beban kandungan semakin lama semakin membesar dan memberat., sampai masa penyapihan bayinya dalam umur dua tahun. Karena itu, bersyukurlah kepada-Ku dan taat kepada kedua orang tuamu, karena kepadakulah tempat kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Pada hari kelahiran kita, ibu yang berdarah-darah sangat siap mengikhlaskan nafas terakhirnya jika memang harus ada yang meninggal dunia, demi hadirnya seorang buah hati. Tiada harapan lain dalam hati beliau kecuali kelak bayi yang lahir ini menjadi anak yang shalih dan shalihah.

Kita lahir tanpa daya. Saat tubuh kita kedinginan, ibu yang memeluk dan memberi kehangatan cintanya. Saat tengah malam tiba tiba kita terbangun, tak tahu apa yang kita rasakan, apakah lapar, mengantuk, ingin buang air, dan lain sebagainya, kita hanya bisa menangis, namun ibu sangat mengerti apa yang sedang kita butuhkan. Dalam kantuknya ibu tetap rela bangun dan terjaga melayani semua kebutuhan kita. Tidak jarang beliau nyaris tak bisa memejamkan mata dengan nyaman di malam hari.

Tak cukup sampai disitu, semakin hari kita semakin tumbuh bersamaan dengan bertambahnya usia, justru bukan mengurangi beban beliau. Namun ternyata masa kecil kita sangat menyusahkan beliau.

Saat masa-masa awal belajar berjalan, berulang kali kita mencoba berdiri dan jatuh kembali, bangun dan jatuh lagi. Siapa motivator terbaik kita saat itu hingga kita bisa berjalan sempurna hari ini, bahkan kita bisa berlari cepat? Ternyata ibu dan ayah lah yang dengan sabar melatih kita, mulai dari cara berjalan, mengenakan dan melepas pakaian, menyuap makanan kedalam mulut, juga melatih kita dengan sabar mengenali satu persatu makna kata kata.

Saat kita sekolah tidak jarang diantara kedua orang tua kita yang menekan kebutuhan mereka, dan adapula yang sampai mengurangi jatah makan mereka, hanya karena ingin kita bisa sekolah, agar kita bisa membeli buku, agar kita bisa berganti sepatu dan baju, agar kita bisa juga membeli jajan seperti teman teman kita.

Jika hari ini kita merasa hidup kita bermanfaat, kita bisa tersenyum dan tertawa maka sungguh semua ini tak mungkin tanpa peran ibu dan ayah kita.

Hari ini cerita berubah, kini kita telah dewasa, ada diantara kita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Dan mereka tak lagi muda, ayah ibu kita kini semakin renta, kulit mereka semakin berkerut, mata mereka perlahan menjadi kurang awas, kemampuan mereka semakin lemah.

Kenangan apa yang hadir dalam ingatan kita sekarang? Dari sekian banyak kebaikan mereka, mana yang paling kuat dalam ingatan kita? Atau mungkin kekurangan mereka yang justru kita ingat ingat, cara mendidik mereka yang sering kita kritik, dengan mengatakan bahwa cara mereka kuno, kolot dan seterusnya? Atau mungkin ada dendam kemarahan yang belum terselesaikan dengan Ayah Ibu kita?

Apapun itu selama emosi negatif yang masih kita bawa sesungguhnya tidak akan mengundang keberkahan dari Allah untuk kehidupan kita.

Mari menyusun kembali langkah langkah sukses kita dengan memaafkan mereka jika ada kesalahan mereka yang masih membekas di hati kita. Ketidak setujuan kita pada perkataan dan sikap Ayah Ibu janganlah menjadikan kita lupa berbuat baik pada mereka. Seburuk apapun orang tua kita, sejelek apapun perilaku mereka kepada kita, tetap saja mereka orangtua kita yang wajib kita hormati. Sudah selayaknya kita melatih diri untuk menghancurkan gunung ego dalam diri kita dengan senantiasa berkata dan berprilaku baik pada mereka. Janganlah dendam dan emosi negatif yang merusak kehormatan kita pada mereka yang sungguh sangat mulia.

Semoga dengan niatan berbakti kepada kedua orang tua kita, Allah akan lapangkan semua urusan kita, Allah terangi hari hari kita dengan cahaya-Nya. Dah kesuksesan penuh berkah semakin mudah untuk digapai dengan dukungan doa tulus ikhlas dari kedua orang tua kita.


Sumber : http://www.fimadani.com/sudahkah-kita-memuliakan-orang-tua/

Sabtu, 25 Juni 2011

Dakwah Sekolah Kita Kembali ke Masa Silam, Menanti Kebangkitan atau Kehancuran?

Islamedia - Berbicara tentang dakwah thulabiy, maka mau tidak mau kita akan bicara tentang dakwah kampus dan dakwah sekolah karena memang dua segementasi ini yang menjadi fokus dari dakwah thulabiy kita, selain dakwah dibidang kepemudaan lainnya.

Belakangan ini di televisi kembali marak diberitakan mengenai tindak kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar seperti; tawuran yang kerap terjadi khusunya di wilyah ibukota, pencurian dari mulai barang elektronik seperti telepon genggam hingga kendaraan bermotor yang melibatkan atau dilakukan oleh pelajar, dan yang paling mengagetkan ialah jumlah tindakan asusila yang dilakukan pelajar kini mengalami peningkatan pesat. Berita-berita tersebut belum pula ditambah dengan semakin tidak terkendalinya penggunaan narkoba di kalangan pelajar yang sejak lama telah lebih dulu menghiasai layar televisi kita, bahkan kini pelajar bukan lagi menjadi korban dari peredaran narkoba, melainkan menjadi pengedar barang haram tersebut.

Saudaraku, berita- berita tersebut seakan mengantarkan kita kepada masa-masa silam yakni di sekitar tahun 1996 sampai awal tahun 2000-an, dimana saat itu berita-berita sebagaimana disebutkan diatas di televise maupun surat kabar seolah menjadi berita yang telah lumrah untuk disajikan setiap harinya.

Saudaraku, inilah sebuah realita yang harus kita hadapi. Bercerita seorang teman yang juga seorang pengelola dakwah sekolah, dimana dimasa “kejayaannya” dulu sekolahnya terkenal sebagai lumbung ADS, bahkan merupakan sekolah yang pertama kali berhasil menjadikan Mentoring Project sebagai program sekolah yang wajib diikuti oleh seluruh siswa disekolahnya. Ada seorang alumni non-ADS yang datang dan berbincang dengan teman tersebut disekolahnya dan berkata “sekarang ROHIS SMA kita sudah nggak aktif lagi ya?” belum sempat menjawab, alumni yang non-ADS tersebut menyambung perkataannya “Kelihatan, yang pake jilbab lebih sedikit daripada dulu”. Sepenggal pembicaraan diatas juga mengingatkan penulis dengan kisah yang penulis alami sendiri. Belum lama ini, penulis diminta mengisi sebuah acara pelatihan pelajar [Dauroh] dengan lingkup satu wilayah kota yang pesertanya merupakan perwakilan dari beberapa SMA/K diwilayah kota tersebut. Sebuah semangat yang membuncah didada penulis pun muncul karena memang sudah agak lama tidak mengisi acara dauroh SMA apalagi dengan lingkup sebesar itu. Namun, semanagat itu agak menurun ketika mengetahui bahwa jumlah pesertanya hanya kurangdari 30 orang ikhwan dan akhwat, padahal lingkup acara tersebut adalah SMA/K sewilayah kota. Dengan sedikit menghibur diri penulis pun meyakinkan kepada peserta bahwa mereka adalah orang-orang terbaik yang Allah pilih untuk hadir mewakili teman-temannya yang lain.

Dalam beberapa kesempatan pertemuan antar pengelola dakwah sekolah, nampaknya semua mengeluhkan hal yang sama mengenai kelesuan dakwah di sekolah masing-masing. Bahkan sangat mencengangkan, ketika diketahui bahwa aktifitas dakwah sekolah bahkan sudah berhenti sama sekali dari beberapa sekolah.

Padahal, ketika awal dakwah sekolah digencarkan diawal tahun 2000, dakwah sekolah pernah mencatatkan prestasi luar biasa dengan mampu menekan angka tawuran pelajar, bahkan membuat berita-berita negatif yang melibatkan pelajar benar-benar hilang dari peredaran berita sekitar 10 tahun lamanya. Dengan pencapaian tersebut, keberadaan dakwah sekolah pun saat itu mendapat apresiasi yang luar biasa dari birokrasi sekolah maupun instansi pemerintah terkait. Masih hangat dalam benak kita nama “IQRO Club” yang saat itu menjadi lokomotif perentas dakwah di banyak sekolah diwilayah Jakarta dan sekitarnya. Kemudian dari sana tumbuh suburlah organisasi ROHIS [Rohani Islam] di sekolah-sekolah yang kemudian diikuti dengan munculnya kegiatan mentoring sebagai sarana perekrutan dan pembinaan para aktivis dakwah sekolah [ADS] yang kelak akan menjadi kader-kader dakwah di kampus maupun di masyarakat. Boleh jadi kita adalah para ADS tersebut yang kini insya Allah tetap istiqomah sebagai ADS, namun bukan lagi “Aktivis Dakwah Sekolah” melainkan “Aktivis Dakwah Selamanya”. Dalam lingkup yang lebih luas, muncullah beberapa organisasi dakwah pelajar yang begitu eksis menggiatkan dakwah sekolah mulai dari skala wilayah kecamatan, kota, bahkan ada yang berskala nasional.

Lantas kemanakah pencapaian prestasi-pretasi gemilang tersebut sekarang, apakah benar bahwa dunia pelajar kita kini telah kembali mengulang masa lalunya yang kelam?.

Saudaraku, hanya kepedulian Kita-lah yang dapat menjawabnya, para ADS [Aktivis Dakwah Sekolah] yang kini telah menjelma menjadi “Aktivis Dakwah Selamanya”, insya Allah.

sumber : http://ksrdki.blogspot.com/2011/04/dakwah-sekolah-kita-kembali-ke-masa.html

Sabtu, 12 Februari 2011

Valentine's Day? Mestikah?

Tanggal 14 Februari, emang hari apa?

Ada yg tau ga? Saya taunya 14 Februari 2011 itu hari SENIN...

Tapi ada yg punya tradisi lain nih...



Emang hampir seluruh negeri, ada tradisi tukar menukar guling eh salah ding..., gula-gula, bunga, cokelat, dan hadiah atas nama hari Valentine. Gak hanya itu lho, remaja di negeri kita juga saling nyatakan cinta, bikin puisi yang romantis, dan lagu yang menyentuh hati demi sang pujaan hati. Ngomongin soal lagu yang menyentuh, tahu kan contohnya? Yup bener, lagu Indonesia Raya. Hehehe. Udah deh, jangan diterusin lagi. Cukup situ aja. Nanti mikir yang enggak-enggak. Memang sih, masih banyak lagi hal lain yang dilakukan pas hari itu, apalagi buat yang punya gebetan, atau lagi bikin rencana counter attack untuk nge-gol-in ungkapan rasa hati, yang selama ini telah terpendam jauh di lubuk sanubari. Glodak...

Tapi udah ah, bikin boros tulisan. Hehe. By the way, tahukah kita siapa Mas Valentine ini? Ada gak sih hubungannya ama pembalap Valentino Rosi? Atau jangan-jangan dia saudaraan ama Tukul Arwana. Hus... ngawur banget tuh. Ya enggaklah. Sobat, memang sih, konon sejarah Valentine ini penuh misteri. Identik ama Kolor Ijo..penuh misteri juga. Hehe. En, hal ini membuat diri kita memiliki pertanyaan besar, kenapa sih banyak remaja yang ngerayain hal ini? Tentunya berbagai sejarah dan sebab musabab Valentine’s Day, bakal kita kupas kulitnya. Yuk, saatnya kita telanjangi si Valentine, eit...sejarah Valentine.

Valentine dan Pernak-perniknya (Sejarah Valentine Tau Gak?)

Sobat, sejarah tentang siapa tuh Valentine dan orang-orang di sekelilingnya memang sedikit banget diungkap. Tapi yang pasti, dilihat dari namanya aja, kita ngerti lho kalo dia bukan seorang muslim. Kecuali kalo namanya Abdullah, Ahmad, atau Rosyid hehe...nah pembahasannya kalo yang ini lain lagi. Paling tidak, berdasar info yang kita sidik, menurut Gereja Agama Katolik ada sedikitnya tiga sejarah yang berbeda soal latar belakang si Valentine atau Valentinus ini.

Legenda pertama nyebutin kalo Valentine adalah seorang pendeta yang melayani Claudius II pada abad ketiga di Roma. Pada suatu saat, Kaisar Claudius II menetapkan wamil buat pemuda yang gak punya istri, dan gak sah, bila ada orang yang menikah pada saat wamil itu. Sst..ngerti gak apa itu wamil, bukan wanita hamil lho ya. Yup, wamil tuh wajib militer. Nah, si Valentine nentang keputusan Kaisar dan tetap melaksanakan perkawinan bagi sepasang muda-mudi saat itu secara rahasia. Saat perbuatan Valentine diketahui Claudius, maka dia murka dan menetapkan hukuman mati bagi pendeta Valentine.

Legenda lain menyatakan bahwa Valentine mungkin telah dibunuh karena mencoba membantu beberapa penganut Kristen yang melarikan diri dari Penjara Roma, karena penjara tersebut ga manusiawi. Mereka sering dipukuli dan disiksa.

Legenda yang ketiga nyebutin kalo Valentine sendirilah yang pertama kali mengirim kartu ucapan kasih sayang. Saat di penjara, ia jatuh cinta pada putri seorang sipir penjara, yang sering mengunjungi Valentine selama di penjara. Sebelum dia dihukum mati, dia menulis surat terakhir bagi kekasihnya, dengan ungkapan yang sangat familiar hingga saat ini, yaitu "from your Valentine". Nah, ungkapan Valentine tadi, hingga saat ini sangat tersohor dan sangat dihormati di negara-negara eropa khususnya Inggris dan Perancis.

Seiring berjalannya waktu, Valentine’s Day hampir menjadi buah bibir muda-mudi seluruh dunia. Apalagi ama blow up dari media masa yang njanjiin nuansa serba pink di bulan Februari. Malah membuat suasana Valentine’s Day makin hot aja. Ya bener, panas. Gimana sih panasnya? Gampang kok, tinggal berdiri di siang bolong jam 1, sambil nggoreng cabai dan ngulek bawang merah di tengah lapangan. Di jamin bakal hot abis. Nah, seperti itu pula suasana Valentine’s Day. Terlepas benar atau tidaknya perayaan itu. Nampaknya bakal seru banget, kalo ga ksedikit yang ngedukung. Mulai dari omongan siswa di sekolah. Obrolan kecil di bangku kuliah. Iklan dan acara khusus menyambut Valentine’s Day. Karaoke dan klub malam yang menggelar hiburan plus-plus di malam harinya. Hingga pedagang asongan yang jualan mawar merah dan coklat kecil berbungkus plastik, udah menjadi icon maraknya dukungan menjelang perayaan hari merah hati sedunia itu. Tapi ingat lho, belum tentu yang banyak itu bener. Iya kan?

Lho, tapi kan yang ngedukung banyak. Itu kan nunjukin kalo perayaan itu ga salah. Eits...sabar dulu frend. Sebenarnya nih ya, sebagian besar media apalagi tempat hiburan tuh, ngedukungnya gak murni karena mereka ngerti asal muasalnya Val Day. Tapi, apalagi kalo bukan karena uang dan uang. He-em. Kapan lagi mereka bisa ngeruk keuntungan segede-gedenya kalo gak ada momen seakbar Valentine’s Day. Di momen lain pun sebenarnya sama lho. Ingat kan pas bulan Ramadhan, pengusaha tempat hiburan, plaza dan media masa ngeblow up segala hal yang berhubungan dengan Ramadahan. Demikian juga pas hari Idul Fitri, natal, tahun baru, dan berbagai momen lain yang sukses banget ngeraup rupiah. Seakan-akan ketika para pengusaha melihat pemuda-pemudi, yang mereka lihat bukan sosok remajanya, tapi sekarung uang yang lagi berjalan. Yup, kalo udah lihat duit numpuk, pupilnya langsung berakomodasi maksimum. Toeng....

Cita-cita para pengusaha yang lagi dimabuk duit, diamini ama keinginan remaja yang menggebu untuk ngerayain Val Day. Masih berlum sreg? Hal ini ditambah ama sifat remaja yang seneng ngikut bareng kalo ada yang rame. Ada pesta, ngikut. Ada syukuran, nimbrung. Ada makan-makan, nebeng. Sampe ada tabrak lari, pengen lihat. Gitu deh sifat remaja. Mereka seneng banget kalo ada teman yang senasib dan sepenanggungan. Gak percaya? Coba deh, pas ulanganmu dapat jelek, kamu pasti nanya ama temen-temenmu, ”Eh ulanganmu dapat berapa?” Tuh, contoh yang gak jauh amat. Berarti yang sering nanya seperti itu tuh hasil ulangannya AT alias Ancur Total. Hehe.

Sobat, terbukti kan kalo remaja happy sekali kalo ada teman dan rekan yang senasib ama dia. Termasuk soal perayaan Valentine’s Day ini. Bagi remaja yang gak ngerayain, mereka bakal feel so bad. Seakan dijauhi ama teman-temannya. Di pikiran mereka akan ada kata-kata “Tidaaaak, jangan jauhi aku!!” Mereka akan dianggap kuper lah, gak gaul, ndeso, katrok, en segunung sebutan buat dirinya. Puas! Puas!! Duh, tak tsobek-tsobek lho. Hehe. Padahal nih ya, gak ada salahnya lho kalo gak nyerayain hari itu. Gak ada ruginya. Yang pasti sebutan seperti itu kan cuma sementara aja. Gak bakal selamanya kok. Meski dibilang gak modern dan gak ikut kemajuan zaman, so what! Justru kita yang harus nyadarin teman-teman kita, khususnya yang muslim dan muslimah. Gak sepantasnya lho kalo mereka ngikut perayaan yang sama sekali gak ada perintahnya dalam Islam. Apalagi sumbernya dari orang-orang non-muslim. Klop banget tuh dosa. Udah kena dosa di masalah iman dan keyakinan, ditambah lagi dengan aksi perayaan yang serba hura-hura dan nyalahi aturan main pergaulan dengan lawan jenis. Numpuk lho dosanya. Di Filipina misalnya, perayaan Valentine’s Day disambut dengan kumpulnya puluhan ribu pasangan remaja yang belum menikah di alun-alun kota. Pas di komando, seluruh pasangan itu saling berciuman, diakhiri dengan tepukan tangan dan pelepasan balon berbentuk hati. Konon acara itu masuk di Guinness Book of Record dengan titel rekor ciuman pasangan terbanyak dan terlama sepanjang sejarah. Dan selebrasi tersebut jadi ide kreatif buat pengusaha klub malam dan diskotik untuk memberi nuansa romance of the night di malam Valentine’s Day. Lagi-lagi pola pikir kapitalis yang main. Sebel.

Valentine? Off the Record!!

Sobat, udah saatnya kita berpikir ulang soal tradisi Valentine’s Day, dan kebiasaan kita yang asal ngikut tanpa ngerti gimana aturan dan konsekuensinya. Sayangnya di dalam benak remaja yang udah keracunan bakteri gaul bebas, hampir udah menutup mata dan telinga soal ajakan kepada kebaikan. Bahkan terkadang dengan mengatasnamakan cinta, sayang dan kesetiaan, ga hanya bergandengan, boncengan, berciuman yang bakal dilakoni. Sang gadis bahkan rela ngorbanin ”mahkota” satu-satunya yang dia miliki demi sang kekasih. Jadi jangan heran kalo di sebuah media masa pernah dikupas bertebarannya kondom seusai pesta Valentine’s Day. Tentunya kamu pada ngeh apa yang terjadi saat itu. Pastinya bukan main golf apalagi karambol. Hehe.

Padahal Rasulullah SAW bersabda, ”Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR. At Thabrani, al Hakim dari Ibnu Abbas). Nah, masih ingat kan tsunami yang menggulung Aceh dan Pangandaran, air bah yang menenggelamkan Jember dan banjir yang ngebikin Jakarta lumpuh. Mungkin ini peringatan dari Allah untuk kita lho.

Lagipula, ngapain juga kudu ngungkapin cinta pas Valentine’s Day, kenapa gak di hari-hari yang lain. Suer, ini bikin kita ga habis pikir. Belum lagi omongan dari yang sudah punya gebetan. Dia berkilah kalo di hari Valentine adalah momen yang pas untuk meningkatkan rasa kasih dan sayang untuk si doi. Sobat, tahukah kamu, kalo hal itu akan makin mendekatkan keduanya ke dalam perzinahan. Dan inget lho, pergaulan bebas bukan hanya zina semata, tetapi segala hal yang menggiring remaja kesana, seperti berduaan, berpegangan tangan, berpelukan dan berciuman, semuanya termasuk aktivitas yang diharamkan oleh Islam. Dan akhirnya bukannya cinta suci yang mereka berdua dapat, hanyalah cinta sakit yang semakin menggembung dan membesar. betul kan..?

Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah setelah syirik, dari perbuatan seorang laki-laki yang menumpahkan air maninya pada rahim yang tidak halal baginya.” (HR. Imam Abi Dunya).

Nah sobat, buat kamu yang laki, ikhwan atau cowok, jangan kebawa arus Valentine’s Day dengan mencoba berbagai atraksi yang meramaikan tradisi jahiliyah itu. Apalagi ditambah dengan aksi gaul bebas yang menjurus kedalam perzinahan. Jangan ketipu ama propaganda yang digembar-gemborkan media untuk saling ningkatkan kasih sayang ama si doi di tanggal 14 itu. Seneng di awal, nyesel di belakang.

Untuk kamu yang cewek, ingat lho, pacarmu bukan suamimu. Dia belum halal bagimu. Jangan muda jatuh dalam rayuan gombal si ganteng yang mencoba meraih satu sentimeterpun bagian dirimu. Apalagi mau ngorbanin satu-satunya ”masa depanmu”. Mungkin di sini dia mau ngomong, ”Aku akan bertanggung jawab.” Itu sih di dunia non, lain lagi kalo di akhirat. Kita bakal mempertanggungjawabkan perbuatan kita sendiri-sendiri.

Allah SWT berfirman, ”...dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali.....” (QS. Al An’aam : 164).

Buat Ayah dan Ibu, tolong jagalah buah hati kalian. Sesungguhnya tanggung jawab anak ada di pundak kalian. Keluarga adalah pilar iman yang kokoh untuk melindungi anak dari dosa dan siksa Allah SWT. Dan saatnya sekarang untuk masyarakat dan negara kita untuk tegas, menolak segala hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Apalagi berkaitan ama iman dan perbuatan yang bisa menyebabkan dosa. Gimana? Ya dengan nerapin hukum Islam dong. Titik.

Nah sobat, udah gak zaman lagi untuk sekedar ngikut dan males berpikir tentang segala hal. Buang Valentine’s Day dari benak dan aktivitas kita. Ganti ama kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan berpahala. Jangan korbanin masa remajamu untuk hura-hura apalagi main-main semata. Karena hidup ini bukannya permainan. Serius lho.

مَن تَشَبَهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنهُم رواه الترمذي

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” [HR. Tirmidzi.]

Dikala seperti ini, kita pegang saja kuat-kuat Sabda Nabi Muhammad saw: “katakanlah: aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah!” Dengan iman yang menancap di lubuk hati, sampai pada cinta kepada keimanan dan iman itu menghiasinya, maka akan benci kepada bentuk kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan sebagai firman Allah di Surat al-Hujurat: 7

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,”

So... Masih tetep mau ngerayain? Mending lakukan hal-hal yang jelas bermanfaat...


www.rohis-sman37.blogspot.com

Kamis, 03 Februari 2011

Rohis Abal, Aktivis Galau

Yah, kan katanya, “‘Mereka’ ujung tombak para pejuang panji risalah-Nya, mulai kini hingga nanti, akhir zaman. Sekilas tentang mereka. Amanah mereka banyak. Tak terhitung lagi jumlah kilo-an-nya jika amanah itu harus ditimbang. Kembali menuju risalah Islam, menjadi qudwah, memberikan ikhwah, menyebarkan hikmah, melaksanakan indahnya hidup sesuai tuntunan syar’i untuk kembali dan lagi disebarkan dan diserukan.”

Terus katanya, “‘Mereka’ berbeda dengan yang lainnya. Disaat orang lain hanya sibuk memikirkan dirinya (bagaimana sekolahnya, bagaimana keluargannya dan bagaimana amanah-amanah duniawi lainnya), seorang aktivis dakwah justru harus memikirkan bagaimana keadaan lingkunagan masyarakatnya, dirinya sendiri, mad’u-mad’u / mutarabbi-mutarabbinya (binaan-binaan) dan lain sebagainya.”

Tapi...


“Ah, ngapain, ikutan DKM atau LDS atau apapunlah yang katanya didalemnya banyak anak-anak rohis –rohaniawan Islam– atau katanya aktifis dakwah? Lha kalau mau shalih ya shalih sendiri aja kali. Toh banyak anak yang ngaku katanya rohis tapi ngomongnya aja masih ‘an*ing’ dan temen sekebun binatangnya segala. Nongkrong pula sama rokok yang ga kebayang kalau ga ada buat diisep. Yah, katanya aktifis. Aktifis apa yang kerjaannya pacaran? Yang cowok sama ceweknya yang kerudungan lagi. Ah mending ga usah ikutan rohis tapi shalih sendiri daripada justru kebawa ga bener.”

Astagfirullah.

“Ckckck, aktifis... aktifis... masalah lu tu banyak buat lu selesaiin. Bukan buat ditumpuk tapi ga jelas mau diapain. Kayak iya aja image lu dihadapan banyak orang itu bagus. Mau dikatain jadi orang alim? Lha, sadar dulu dong. Ngaca, rapat aja masih molor, kerjaannya paling FB-an, chatting atau paling banter sms-an”

“ Ceritanya mau ngeruah dunia sama pandangan Islam? Wah, mimpi dibalik awan tuh. Gua kecewa berat. Niatnya sih kumpul bareng anak-anak nongkrong geng buat ngebenrein mereka pake ayat atau hadist-hadist. Tapi apaan? Lu malah ikutan ngerokok. Niatnya sih lu ngedeketin cewek buat ‘ngejilbabin’, tapi malah lu pacarin. Malu tuh sama ‘gelar’.”

“Kata lu, “Jangan nyontek!”, tapi lu masih nyontek. Lu bilangin ke anak sekelas biar ga ngomong kasar, tapi lu malah ngejek gua pake kata kasar yang tentu ga harus gua kasih tau dihadapan orang banyak. Mau masuk Surga nih ceritanya?! Mau masuk Surga pake modal apa lu?! Sama omongan gede lu yang cuma mimpi? Hah, sompral banget! Waktu mentoring aja lu malah sms-an. Atau kalau lagi ga ada pulsa paling ketiduran.Masuk telinga kiri, keluar telinga kiri. Sama sekali ga masuk atau bahkan hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Kasian tuh mentor. Cape-cape ga ngegaji tapi lu cuekin. Modal lu tuh buat masuk ‘Surga’nya seten. Cacat.”

Astagfirullah.

“Lu paling pake alesan Islami buat ngelakuin dosa. Katanya mabal buat bisa ikutan mentoring. Katanya biar jaga hijab –batasan antar cowok dan cewek dalem Islam–, lu malah ta’aruf-ta’arufan. Emang sih ga lu pacarin. Cuma sama aja bo’ong kalau ujung-ujungnya ngajak sms-an sampe nonton dibioskop. Lah, mimpi lu tuh bayangan belaka, sama kayak omongan gede lu!”

“Lu shalat keliatan bagus doang kalau jamaahan, kalau sendirian, wuih kilat bener. Sedekah aja lu omongin, tapi mana duit amal dari lu? Puasa, yah, gua tau lu jarang puasa.”

“Mending kayak gue, ga DKM juga tapi masih mau shalat. Gua mungkin ga jaga hijab kayak lu, tapi gua ga munafik. Cuma Malu-maluin Islam aja!”

Ya Rabb. Selalu terkenang sang murabbi berkata:

“Saat manusia memenuhi kebutuhannya sendiri, seorang mujahid berjuang memenuhi kebutuhan orang lain. Saat manusia beristirahat, seorang mujahid masih bekerja keras menyempurnakan amanah-amanahnya. Semoga Allah memberkahi, memuliakan dan menolong kalian para mujahid... yang senantiasa MENJAGA kehormatan setiap jengkal bumi kaum muslimin...” (Ar-Ribaath, 24 Sya’ban – 24 Ramadhan 1430H)

Speachless. Ga tau mau nanggepin apa sama omongan diatas. Tulisan ini emang didasari oelh kisah nyata tanpa hanya retorika juga jaim semata. Ini benar-benar terjadi dan benar-benar ga tau mau ngomong apa?

Miris negliat anak-anak DKM atau LDS-LDS sekarang. Mereka memang anggota DKM tapi kontribusi apa yang mereka lakukan terhadap Islam?

“Cuma Malu-maluin Islam aja!”

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS Ash-Shaff [61]: 2-3)

Miris negliat anak-anak DKM atau LDS-LDS sekarang. Banyak yang mngakunya anak DKM, rohis atau aktifis tapi...

Yah, tulisan ini hanya untuk saling mengingatkan karena memang diangkat dari kejadian nyata. Silakan tanggapi dalam diri masing-masing didalam hati, karena tulisan ini ga hanya untuk mengumbar kata. Jazakumullah.


Bumi Allah, 21 Jumadil Awal 1431 H – 6 Mei 2010 M
Annas Ta’limuddin Maulana

Sumber: http://ksrdki.blogspot.com/2011/01/aktivis-rohis-engkau-dengan-segala.html

Aktivis, Engkau Dengan Segala Amanah dan Masalah

Merekalah, ujung tombak para pejuang panji risalah-Nya, mulai kini hingga nanti, akhir zaman. Sekilas tentang mereka. Amanah mereka banyak. Tak terhitung lagi jumlah kilo-an-nya jika amanah itu harus ditimbang. Kembali menuju risalah Islam, menjadi qudwah, memberikan ikhwah, menyebarkan hikmah, melaksanakan indahnya hidup sesuai tuntunan syar’I untuk kembali dan lagi disebarkan dan diserukan.

Mereka berbeda dengan yang lainnya. Disaat orang lain hanya sibuk memikirkan dirinya (bagaimana sekolahnya, bagaimana keluargannya dan bagaimana amanah-amanah duniawi lainnya), seorang aktivis dakwah justru harus memikirkan bagaimana keadaan lingkunagan masyarakatnya, dirinya sendiri, mad’u-mad’u / mutarabbi-mutarabbinya (binaan-binaan) dan lain sebagainya.

Mereka berbeda dengan yang lainnya –baca: remaja lainnya–. Dikala remaja saat ini terlarut dalam pergaulannya, seorang aktivis dakwah justru harus ‘melarutkan’ pergaulan itu sesuai tuntutan Allah.
Mereka berbeda dengan remaja lainnya. Mereka –harusnya– tidak terlalu banyak tertawa, bercanda dan mengumbar pesona. Mereka –harusnya– tidak banyak menghabiskan waktunya untuk hal tidak berguna, ‘hang-out’ –kecuali di masjid–, kumpul tiada guna, merokok juga mabuk-mabukan.


Mereka –harusnya– menjaga hijab, bukan mukhrim dilarang mendekat, apalagi masalah ngeceng ataupun pacaran... –harusnya– mereka sangat menjauh dari hal yang dilaknat oleh Allah itu. Tak penting kata orang dikata ‘ga gaul’ atau ‘aneh’ atau apapun cercaan serta makian lainnya.

Karena mereka berbeda. Mereka harus menjadi qudwah (teladan) bagi yang lainnya, memberikan semua yang terbaik bagi yang lainnya. Mereka berbeda, mereka spesial.

Yang terpenting adalah syariah Islam tegak berdiri ditempat yang sedang dipijak.

Mereka liqa / mentoring rutin. Dengan dipimpin seorang murabbi pantuan mereka tilawah Al-Qur’an, mendengarkan materi untuk kemudian disebarkan. Dan setelah selesai mereka berdo’a:

“Subhanaka allahuma wabihamdik(a), asyhaduala illa hailla ant(a), astagfiruka waatuuilaik(a).”

Do’a akhir majelis itu dilantunkan penuh hikmah pertanda mentoring t’lah berakhir. Dan malaikat berharap semoga mentoring kali ini –kemarin dan seterusnya– tidak membuang waktu mereka untuk hanya duduk termenung mendangarkan saja tanpa amalan indah dilakukan.
Sungguh indah hidup mereka selalu dido’akan para malaikat pencari majelis dzikir pun malaikat pencari orang-orang shalih –amiiin–.

Tapi... tak sedikit pula –bahkan banyak– dari mereka yang mengaku menyeru padahal hanya terperangkap dalam lingkaran setan yang menganggu.

Bagaimana tidak? Potensi mereka untuk menjadi riya’ sangatlah mungkin! Potensi mereka untuk menjadi sum’ah sangatlah besar! Mereka dapat menjadi kufur, fasik, bahkan munafik sewaktu-waktu dan hanya memampangakn dan menyembunyikan mukanya dibalik topeng dakwah.

“Liat anak-anak DKM! Mereka aja maksiatnya kuat! Mereka pacarannya rutin! Mojok tapi masi berjilbab, yang ‘ikhwan’ masih megang qur’an! Kalo mau lepas aja tu jilbab sama buang aja tuh qur’an ato engga sekalian aja keluar dari DKM dari pada malu-maluin! Ngomongin cinta-cintaan mulu! Ada yang cinlok cewe (akhwat) ama cowo (ikhwan) terus jadian! Katanya sih pacaran islami gitu –emang ada? –! Pegangan tangan udah biasa apalagi pojok-pojokan! Hijabnya mana?!”

“Liat FB! Wall, note, stat mereka udah jadi ladang maksiat! Haha, kirain anak DKM tu yang ga tau pacaran tapi statusnya ‘in relationship’. Kirain mau ‘meng-Islamisasi-kan’ FB, eh gataunya... Bedanya ama kita yang bukan seorang yang ‘ngaku’ aktivis apaan?! Mending ga jadi aktivis sekalian tapi kebaikatn tulus dari hati! Majang status anak ‘alim’ doang!”

–afwan, sebuah hujjah untuk introspeksi bukan untuk diprotesi–

Menangis mendengar kalimat hujjah yang terlempar itu... bertanya dimana generasi rabbani yang didambakan? Dimana mereka sang pejuang panji risalah? Dimana mereka sang pemikul amanah? Sang teladan dan qudwah? Sang penyebar ikhwah dan hikmah?

Kehilangan semua status kebaikan karena telah bobroknya sistem tarbiyah yang menjadi protektor. Telah hilang semuanya dikarenakan pola pikir azazil (al-iblis laknatullah) yang telah membungkus ruhiyah.
Menangis mendengar mengingat kembali...:

“Saat manusia memenuhi kebutuhannya sendiri, seorang mujahid berjuang memenuhi kebutuhan orang lain. Saat manusia beristirahat, seorang mujahid masih bekerja keras menyempurnakan amanah-amanahnya. Semoga Allah memberkahi, memuliakan dan menolong kalian para mujahid... yang senantiasa MENJAGA kehormatan setiap jengkal bumi kaum muslimin...” (Kata-kata murabbi –mentor– yang selalu terkenang saat Ar-Ribaath, Training for Mentor ROHANI-554, 24 Sya’ban - 24 Ramadhan 1430H)

Andai semua itu nyata. Tak hanya sebuah utopia maya. Bagaimana mungkin Islam tersebar ke seluruh hati umat manusia? Bagaimana mungkin Indonesia kan bangkit dengan Islam-nya? Bagaimana mungkin Palestina kan terbebas dari penjajahannya? Bagaimana mungkin genjatan senjata menjadi nyata keberadaannya? Bagaimana mungkin pasukan Al-Mahdi menang melawan pasukan Dajjal –lakatullah– yang memeranginya?

Jika aktivis sekarang sibuk dengan masalahnya... bukan amanahnya...

“ Hallo kawan...
Sahabat muslim tercinta...
Kita sambut kemenangn bahagia...
Mari kawan...
Ikutlah bersama kami...
Membela risalah Islam di dunia...

Remaja peduli...
Pintar dan mandiri...
Giat berprestasi...
Ku persambahkan untuk Illahi...
Bersatu, berjihad, dalam da’wah Islam,
Di atas panji Al-Qur’an dan As-Sunnah...

Mari kawan...
Ikutlah bersama kami...
Membela risalah Islam didunia, kita... ”


(Edcoustic – Remaja Peduli)

Berubahlah... karena engkau berbeda, karena engkau spesial.


Ditemani senandung dari Edcoustic, Fridaus, Shaff-Fix, Haris Isa, D’Cinnamons D’Masiv dan Depapepe
Bumi Allah, 28 Ramadhan 1430 H – 17 September 2009 M
Annas Ta'limuddin Maulana

http://www.annasmaulana.co.cc/2010/12/aktivis-aktivis-engkau-dengan-segala.html

Jumat, 14 Januari 2011

Janji Allah Untuk Sang Penuntut Ilmu

Buletin Dakwah Al-Kahfi Edisi 33 Tahun V/ 16 Mei 2009 / 20 Jumadil Awal 1430 H.

Siput dan semut bertemu

Tahukah kamu apa manfaat ilmu

Cacing dan cicak makan lezat

Janji allah tuk naikin derajat

Kata orang bijak, kesuksesan itu bisa diraih dengan ilmu. Kalau di pikir dan di hayati bener juga, kalau ilmu kita sama sekali gak ada gimana kita bisa sukses ya? Kadang belajar juga males banget, kalau dah mau ujian paling ngerepotin buat kopekan taw lihat temen aja deh.. tapi bagi yang rajin belajar, tenang aja bro! semua jadi heppy2 aja.

Lalu ada juga yang ngomong, “Tapi banyak loh? Orang yang gak sekolah bisa sukses, lah! Tu gimana ceritanya”. (Ayo? Siapa bisa jawab entar kita kasih donat). Emang bener kok, aku aja perna lihat orang miskin dan kelihatan bodoh banget tampangnya tapi kok bisa jadi orang sukses ya? Banyak yang bilang dia pake jimat taw sejenisnya. Tapi gak loh? Ternyata dia gak berhenti untuk berusaha dan berdoa.

Allah sudah berulangkali mengatakan bahwa, "Ia tidak lihat hasil yang telah kita capai, tapi Dia lihat apa yang kita usahakan”. Jelas dong orang yang kelihatan miskin dan bodoh itu bisa sukses, karena kerjaannya tiap hari usaha dan berdoa. Harta yang melimpah, mobil yang menumpuk, uang yang menggunung tidak membuat kita bisa sukses seumur hidup kalau kita melupakan usaha dan doa.

Di dalam usaha, ada sebuah ilmu yang diterapkan. mau tahu apaan? Ilmu keyakinan akan sebuah kesuksesan. banyak orang tidak bersekolah karena malas, bosan, atau gak ada uang. Kebanyakan anak yang gak sekolah karena terhalang sama yang namanya uang, dia akan berusaha sekuat tenaga agar ia bisa belajar di tiap waktu walaupun gak masuk ruang kelas, gak lihat bapak-ibu guru taw gak bisa kenalan sama temen2 yang kece-kece, tapi kalau ia berusaha belajar yakin Allah pasti akan kasih kesuksesan itu.

Beberapa kemampuan yang harus di latih biar berilmu dan sukses bro.. jangan di lewatkan tuk yang satu ni!!

1. Gak perlu banyak baca entar bisa bosan yang penting rajin baca ya? (intinya sama aje kale)

Tahu gak kalian semua kalau dulu Rasulullah tu gak pinter loh? Bahasa gaulnya (goblok) tapi coba lihat guys, beliau punya guru yang hebat banget, malaikat Jibril yang ngajarin beliau Iqro' terus sampai deh beliau jadi orang yang luar biasa. Jadi intinya, terus berusaha belajar membaca, baca, terus baca, sampai pintar baca, dan hebat baca, walau da pintar, tapi tetap menghargai gurunya. Nah! mulai sekarang terus berusaha dan sayangi guru ya!! Walau kadang gurunya gak enak dan cerewet, tapi tetap aja dia orang lebih hebat dari pada kita.

2. Menulis lebih hebat dari pada cuma denger-denger gak jelas

Kata guru aku, menulis itu separoh dari keberhasilan dalam belajar. (Bener gak ya? Entar kamu tanya aja langsung sama guru aku. Ok! entar ku kasih alamatnya ya. He…).

Kalau ada tulisan dalam belajar, kita bisa ingat lagi dengan cara membaca tulisan kita. Walau aku tahu tulisan kamu kayak cacing kepanasan, tapi itu bisa buat kamu ingat banyak loh akan pelajaran kemaren2. Aku jamin deh! Gak percaya? coba aja sobat. Kamu pasti berhasil dalam belajar. pasti berhasil dalam belajar.

3. Berbicara gak cuma cuap-cuap bebek tapi penuh dengan makna

Banyak orang gak pandai ngomong tapi bisa suksess, tapi kalau kebanyakan ngomong kadang jadi tukang gombal. Makanya orang yang banyak ngomong tapi penuh dengan makna aku yakin banget dia bisa lihat sikon di mana harus ngomong di mana harus tutup mulut. Dalam keadaan kelas ketika kerja kelompok ya! Ngomong atuh walah cuma bisa bilang setuju, itu bisa ngebuat kamu jauh lebih di hargai ketimbang kamu cuma tahu diam, diam dan....

4. Yang terakhir, banyak-banyak do………….a

Orang sukses tu gak pernah lupa sama Tuhan lo? Tahu gak ilmuan yang namanya Thomas Alfa Edison, kalau dia gagal, dia aja bilang “Oh…My God”. Karena kita orang Indonesia jadi kita bilang “ya Allah”? Gak pake bahasa Inggris tapi keren juga kita pake bahasa Arab kadang kita bilang “astagfirullah”. Intinya sukses gak sukses tetap ingat Tuhan biar Tuhan juga ingat kita. Kalau tuhan gak ingat kita berabe jadinya, entar kalau kita kesasar ke neraka Tuhan kan gak tahu. Padahal kita tadinya penghuni surga. Ok! sepakat sobat kalau semua yang kita lakukan tuk belajar kudu mesti ingat Tuhan.

Hore…. Aku berhasil jadi orang yang pinter dan sukses, terus apa janji Allah..?

"Allah meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman dan mempunyai ilmu." (QS 58:11)

Dan ingat yang satu ini.

"Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah?" (QS 45:23)

Wallahu'alam

By : AKHWAT SMILE (*_*)

Generasi Robbani..?? Harus Hobi Baca Donk Sobat..!!!

Buletin Dakwah Al-Kahfi Edisi 32 tahun IV / 04 Jumadil Awal 1430 H / 30 April 2009

Sobat BDA semua pada tau gak yang namanya baca buku?? Kemungkinan, jika diadakan penelitian tiap sekolah tentang siswa yang hobi baca tentunya sangat sedikit. Kebanyakan mereka lebih suka jalan - jalan yang gak jelas rimbanya dari pada menghabiskan waktu dengan membaca. Ini fakta lho, gak cuma sekedar opini aja. Mmmm...sangat disayangkan memang!!! Padahal, sebagai seorang Muslim kita harus suka membaca. Coba deh ingat wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam!! Yaitu Iqro’ (bacalah). Itu artinya kita diperintahkan untuk rajin membaca, untuk menggali ilmu yang lebih luas. Karena membaca merupakan makanan bagi jiwa.

Tapi yang buat kita heran, kenapa orang yang hobi baca itu dijuluki dengan julukan yang tidak layak, seperti kutu buku, kuper, cupu, kampungan, gak tau dunia modern, and banyak lagi julukan - julukan lainnya yang tidak patut. Padahal mereka yang mengatakan itulah yang tidak tahu dunia modern. Apa modern itu dikatakan dengan cara mengikuti trend mode pakaian atau rambut?? Sungguh bodoh orang yang berfikir seperti itu..!!

Pembeda antara orang cerdas dengan mereka yang kurang cerdas adalah gairah membaca. Bahkan gairah membaca akan melejitkan seseorang ke pantai harapan. Karena membaca adalah syariat Islam yang pertama kali diajarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena malasnya umat Islam untuk membaca inilah yang menyebabkan umat Islam saat ini masih terbelakang di bidang iptek. Padahal kita memilliki kitab yang merangkum segala macam ilmu, yaitu Al Qur’an Karim. Namun, untuk membacanya saja kita malas, apalagi mentadabbur, menelaah dan meneliti ilmu-ilmu yang ada di dalamnya, Na’udzubillahi min dzalik.

Ony Suryaman menjelaskan, “Membaca adalah simbol kemajuan sebuah peradaban. Ia membedakan peradaban maju dengan primitif, antara negara maju dan berkembang. Melihat begitu pentingnya membaca, ia pun dijadikan salah satu indeks bagi pembangunan manusia yang sering di jadikan ukuran keberhasilan pembangunan sebuah negara.”

Bisa jadi, karena “didikan kolonial Belanda” dahulu kita menjadi bangsa yang pemalas. Lebih senang ngobrol daripada baca. Terbukti dangan banyaknya sarjana kita yang lebih senang berdebat dan berteori terus daripada memberikan solusi. Dengan banyak membaca, kita akan memperoleh banyak manfaat, diantaranya:

1. Kita bisa belajar tentang kehidupan dengan membaca

2. Banyak membaca tidak akan membuang waktu secara percuma dan sia-sia

3. Dengan membaca wawasan akan bertambah luas. Sehingga dengan bekal wawasan tersebut, kita akan mampu menang tanpa mengalahkan, menyerang tanpa pasukan dan kaya tanpa obsesi harta.

4. Jika minat baca suatu negara tinggi, so pasti negara itu tidak akan ketinggalan dan maju pesat. Masyarakatnya pun tidak ada lagi yang gaptek apalagi buta huruf.

Nah, sobat BDA semua dah pada tau kan manfaat baca itu. So, tunggu apalagi, mari sama-sama kita budayakan membaca. Kapan saja dan dimana saja. Agar negara kita menjadi lebih maju dan tidak terbelakang. OK!! Allahu Akbar!!


Oleh : Mustika Roseka ( SMA Negeri 4 Kisaran )

email: de_bilge@yahoo.com

Saudaraku, Tinggalkanlah Dusta!!

Buletin Dakwah Al-Kahfi Edisi 31 tahun IV / 30 Rabi’ul Awal 1430 H/ 27 Maret 2009

Diantara sebab terbanyak yang menjerumuskan anak Adam ke lembah kemaksiatan adalah mereka tidak menjaga dua hal, yaitu lidah dan kemaluannya. Sehingga Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat bersarlah kebencian Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS As Shaf:2). Dan Sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang mampu menjaga apa yang ada diantara dua janggutnya dan apa yang ada diantara dua kakinya, maka aku jamin akan masuk surga.”(Bukhari-Muslim). Abdullah bin Mas’ud R.A pernah berkata, “Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih membutuhkan penjara daripada lidah.”

Kemaksiatan yang ditimbulkan dari kemaluan adalah zina, dan kemaksiatan yang ditimbulkan lisan adalah dusta. Terkadang dengan lisannya, seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga menimbulkan fitnah dan kemudharatan yang banyak bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, jelaslah bahwa diantara keselamatan seorang hamba Allah tergantung pada penjagaan terhadap kemaluan dan lisannya.

Termasuk penyimpangan yang nyata dan banyak terjadi di masyarakat kita saat ini adalah berdusta, baik dalam ucapan maupun prbuatan, baik menjual maupun membeli, dalam sumpah dan perjanjian. Padahal dusta termasuk hal yang berbahaya, karena termasuk urusan haram yang dapat menjerumuskan pelakunya kedalam neraka. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dusta itu menuntun pada kekejian, dan kekejian itu menggiring ke neraka. tiada henti-hentinya seseorang itu berdusta dan membiasakan diri dalam berddusta sehingga dicatat disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (Bukhari-Muslim). Abu Bakar R.A pernah berkata, ”Janganlah sekali-kali kamu bredusta, karena dusta adalah sumber kemaksiatan dan keduanya di dalam neraka.”

Dusta mempunyai banyak pengaruh buruk, baik bagi si pendusta maupun orang lain. Diantaranya:

  1. Menyebabkan keraguan diantara manusia. Keraguan artinya bimbang dan resah. Ini berarti, seorang pendusta selamanya menjadi sumber keresahan dan keraguan, serta menjatuhkan ketenangan pada orang-orang yang jujur. Dalam sebuah hadits disebutkan, ”Tinggalkanlah yang membuatmu ragu dan ambillah apa yang tidak meragukanmu, karena kejujuran itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keresahan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).
  2. Termasuk salah satu sifat orang munafiq. Dalam sebuah hadits dinyatakan, “Ada 4 hal, siapa yang memiliki semuanya maka ia munafiq sejati, dan siapa memiliki salah satu diantaranya, berarti ia mempunyai datu jenis sifat munafiq hingga ia meninggalkannya. yaitu bila diberi amanah dia berkhianat, bila berkata ia berdusta, bila berjanjia ia ingkar dan jika berselisih ia berkata kotor.” (Bukhari-Muslim)
  3. Hilangnya kepercayaan. Sesungguhnya selama dusta menyebar di masyarakat, maka hal itu akan menghilangkan kepercayaan dikalangan umat Muslim, memutuskan jalinan kasih sayang diantara mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya kebaikan dan menjadi penghalang sampainya kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya.
  4. Memutarbalikkan kebenaran. Diantara pengaruh buruk dusta adalah memutar balikkan kebenaran, membawa brita yang berlainan dengan fakta, lebih-lebih dilakukan dengan tanpa mencari kejelasan atau tabayyun yang disyari’atkan. Hal ini dilakukan karena para pendusta suka merubah kebatilan menjadikebenaran dan kebenaran menjadi kebatilan dalam pandangan manusia. Firman Allah SWT, “...Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yan melampaui batas lagi pendusta.” (QS Al Mukmin:28)
  5. Pengaruh dusta terhadap anggota tubuh. Dusta menjalar dari dari hati ke lidah, maka rusaklah lidah itu, lalu menjalar ke anggota badan, maka rusaklah amal perbuatannya sebagaimana rusaknya lidah dalam berbicara.

Itulah sebagian kecil dari akibat buruk dusta, yang semuanya merupakan akibat yang terasa di dunia, dan di akhirat balasan yang lebih dahsyat lagi dan lebih mengerikan. Jelaslah bahwa para pendusta berjalan diatas jalan yang menuju neraka. Karena dengan berdusta, berarti ia telah membuka jalan berbagai pintu keburukan lainnya.

Untuk itu wahai Saudaraku!! Mari kita perhatikan bahaya dusta dan akibatnya, sehingga kita merasa takut untuk melakukannya. Semoga Allah SWT menganugrahkan kejujuran kepada kita semua, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Allahu a’lam

Kamis, 13 Januari 2011

Manis Pahitnya Dakwah

Kamu jadi aktivis rohis? Berbahagialah, karena kamu udah peduli dengan nasib dirimu, dan juga kawanmu. Maklumlah, anak rohis kan identik banget dengan kegiatan keislaman. Bahkan jadi ciri khas bahwa anak rohis adalah anak-anak yang hobinya ‘nyeramahin’ anak lain. Tapi jangan salah lho, bukan berarti aktivitas itu tanpa risiko. Ada aja risiko yang kudu kamu tanggung. Bahkan mungkin kudu dibayar mahal. Bener. Maka jangan kaget kalo anak rohis, selain banyak temannya, juga nggak sedikit ‘musuh’nya.

Sobat muda muslim, sebenarnya aktivitas dakwah nggak dibebankan kepada anak-anak yang udah biasa ngetem di masjid aja. Anak-anak lain, asal dia muslim or muslimah, juga punya tanggung jawab yang sama untuk mengingatkan teman lain kalo berbuat maksiat. Pendek kata, kamu yang bukan anak rohis pun, punya juga kewajiban menyampaikan Islam kepada siapa saja. Itu artinya, dakwah emang bukan spesialis anak rohis aja. Semua orang bisa dan bahkan kudu bin wajib melakukan dakwah. Nggak dikavling-kavling tugasnya.

Kadang bagi sebagian remaja, mengingatkan teman yang berbuat maksiat gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang kali yee..?). Yup, dua-duanya juga bener. Begini, dibilang gampang, emang gampang. Kita tinggal ngomong atau sekadar nulis apa yang kita nggak suka terhadap apa yang dilakukan sebagian teman-teman kita. Beres kan? Tapi kadang susah juga buat sebagian teman kita. Apa susahnya? Pas mau ngomong ngingetin teman, suka nggak enak, sungkan, dan seabreg kendala teknis lainnya. Nha lho, ati-ati tuh! Kalo susah-susah gampang gimana? Begini, sebagian dari kita kadang susah banget untuk menjalani aktivitas ini. Masih ngukur-ngukur diri. Katanya sih, belum layak kalo harus ngingetin orang, sementara dirinya merasa masih belepotan dosa. Hmm… padahal, apa susahnya cuma ngingetin. Iya nggak? Lagian, dengan begitu kita jadi punya tanggung jawab moral. Sedikit demi sedikit bakalan tumbuh juga kan sikap ingin menyesuaikan dengan apa yang kita ucapkan. Betul? Yakin itu. Jadi ternyata gampang juga kan? He..he. udah deh, kita nggak usah ngeributan istilah gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Nyang penting jalanin aja deh aktivitas mulia ini.

Seperti sekarang nih, maksiat kian merajalela. Media massa cetak dan elektronik getol ikut membantu mensyiarkan kemaksiatan. Hasilnya? Kita semua dikepung dari berbagai arah penjuru angin. Nyaris nggak bisa bernafas. Semua media seperti seragam; memberi menu pornografi, kekerasan, dan juga seks. Kalo pun ada media Islam, ‘sinyal’nya nggak begitu kuat untuk mengalahkan dominasi bacaan dan tayangan yang mengabaikan aspek moral dan ajaran agama. Menyedihkan. Itu sebabnya, peran kita dalam dakwah juga harus terus diaktifkan. Nggak kenal lelah, pantang menyerah. Maju terus pantang mundur. Nyalakan terus semangat di jiwa kita. Dakwah adalah jalan yang harus kita tempuh, apa pun risikonya. Sebab, tanpa dakwah, kemaksiatan ini makin membudaya dan orang yang bermaksiat kian merasa aman. Betul?

Aktivitas yang mulia

Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja?

Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim" (QS Fushshilat [41]: 33)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Seperti dalam firman-Nya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)

Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah: “Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (al-Baqarah [2]: 193)

Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja Muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!

Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.

Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin meroket? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan mereka.

Itu sebabnya, kita kudu melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)

Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atawa Rambo yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah.

Subur dengan cobaan

Sobat muda muslim, aktivitas mulia ini ternyata kudu berhadapan dengan segala risiko. Risiko yang nggak jarang bikin kita sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)

Coba, gimana menderitanya Amar bin Yasir yang disiksa oleh para pembesar Quraisy ketika awal-awal Islam berkembang di kota Mekkah. Nggak hanya itu, beliau harus rela menyaksikan kedua ortunya gugur sebagai syuhada di depan mata kepalanya sendiri. Kita juga bisa meneladani bagaimana pula pengorbanan Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di siang hari yang panas dan tubuhnya ditindih batu, sementara pasir di bawahnya terasa membakar kulitnya. Tapi, subhanallah, Bilal sanggup melewatinya dengan kesabaran dan keimanan yang tetap menancap di hatinya.

Boleh dibilang, di balik manisnya aktivitas dakwah, ternyata menyimpan rasa pahit yang amat sangat. Tapi ini sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada risikonya. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat ia meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: “(Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.” (dalam Sirah Ibnu Hisyam)

Kontan aja berbagai penyiksaan dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah “bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan”. Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe pukulan.

Padahal, maksud kita juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?

Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt.:“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat [41]: 30)

Oke deh, nyalakan terus semangatmu untuk berdakwah. Apa pun yang bakal terjadi. Ini pilihan hidup kita. Jalan yang insya Allah bisa mengantarkan kebangkitan Islam dan umatnya. Tetep semangat sobat!?

Rabu, 28 Juli 2010

Cahaya Itu Jangan Dibiarkan Meredup

"Semut-semut kecil., saya mau tanya., apakah kamu di dalam tanah., tidak kegelapan?" ini adalah penggalan bait sebuah lagu anak-anak, namanye juga anak-anak, iseng aje nanya-nanyain semut. Tapi ada benarnya juga bertanya, dengan bantuan apa koloni semut itu dalam beraktivitas di bawah rongga-rongga tanah? yang kita tahu pastinya disana memang gelap, tidak ada cahaya tembus menerangi. Karena dalam sudut pandang manusia, dalam beraktivitas kita memerlukan cahaya dalam membantu mata kita dapat melihat.

Ketika siang kita dibantu cahaya mentari, ketika malam kita dibantu cahaya rembulan. Lain manusia lain juga dengan semut, Allah SWT menciptakan semut yang tinggalnya di dalam rongga-rongga tanah yang sarat dengan kegelapan tetapi semut masih bisa beraktivitas dalam kegelapannya itu. Itulah kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Karena sangat perlunya cahaya, akhirnya manusia berfikir bagaimana kalau cahaya matahari dan rembulan itu tidak bisa maksimal dalam membantu mata kita untuk melihat karena cahayanya terhalang atap atau sekat sebuah bangunan. Maka digunakanlah api untuk menerangi, dari dengan cara membuat obor, api unggun, lampu tempel sampai lilin khususnya untuk dimalam hari. Kemudian akhirnya biidznillah manusia menemukan bola lampu, yang sampai saat ini sangatlah berguna bagi kita untuk membantu beraktivitas dalam ruang yang terhalang dari cahaya sinar mentari dan rembulan.

Cahaya mentari, rembulan, obor, lampu tempel, lilin sampai bola lampu itu memang sangatlah diperlukan oleh kita manusia untuk membantu dalam menjalani aktivitas di dunia ini. Cobalah kita berjalan di dalam gelap, tentunya kita tidak akan bisa kecuali kita mendapati cahaya walaupun hanya sedikit. Bersyukurlah kita akan nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita, nikmat mata yang dapat melihat dan nikmat cahaya yang dapat menerangi.

Kita manusia memerlukan cahaya bukan hanya untuk berjalan ketika di dunia, tetapi kita juga amat sangatlah perlu cahaya untuk perjalanan kita menuju ke akhirat. Apa jadinya ketika dalam perjalanan kita menuju akhirat tempat kita hidup untuk selama-lamanya kelak, tidak ada cahaya yang menerangi. Pastinya kita tidak ingin kita tersesat dalam sepanjang perjalanannya, tersesat ke tempat dimana kita tidak menginginkannya.

Hanya ada dua tujuan perjalanan kita menuju akhirat, Surga dan Neraka. Cahaya akan menuntun kita ketempat yang kita sama-sama inginkan yaitu Surga. Karena dengan cahaya kita bisa melihat jalan menuju ke sana. Tetapi ketika kita tidak mendapatkan dan jauh dari cahaya itu maka kita akan tersesat menuju Neraka.

”Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Hadid:28)

Cahaya itu jangan dibiarkan meredup, meredup dengan banyaknya kemaksiatan yang kita lakukan. Meredup bersamaan dengan lemahnya keimanan kita yang ketika dibiarkan semakin turun kualitasnya. Ketahuilah Keimanan kita itu kadang naik dan kadang turun, Imam Al Ghazali menerangkan bahwa keimanan kita naik ketika kita dalam keta’atan kepada-Nya, dan keimanan kita turun ketika kita asyik terlena dengan kemaksiatan kepada-Nya.

Kembalilah kita kepada sumber cahaya itu yaitu Al Qur’an, dan berdoalah kepada Allah SWT untuk senantiasa diberikan kesempurnaan cahaya pada diri kita dan memohon ampun kepada-Nya. Mumpung kita masih diberi waktu.

”Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. As Syuura:52)

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. At-tahrim:8)

Wallahu a’lam bishshawab

Kamis, 29 April 2010

Pesan Untuk Ikhwan dan Akhwat

Interaksi antara ikhwan (cowok) dan akhwat (cewek) memang menjadi hal yang sangat rumit, kita harus mengenal satu sama lain untuk memudahkan dalam berbagai aktivitas kegiatan, namun tentu juga kita harus menjaga berbagai ketentuan syariat yang harus ditegakkan untuk menghindari berbagai fitnah yang berpotensi timbul. Berikut sepengggal pesan bagi kita semua.

Pengakuan & pesan para ikhwan untuk para akhwat :

1. kami sulit menahan pandangan mata ketika sedang melihat kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan Allah kecantikan dan postur tubuh yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian, karena itu lebarkanlah pakaian kalian, dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan kerudung yang membentang.

2. kami juga sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan Allah suara yang merdu dengan irama yang mendayu, karena itu tegaskanlah suara kalian, dan berbicaralah seperlunya kepada kami.

3. kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati akan kalian para akhwat, ketika kami merasa kalian dapat menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian.

4. kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para akhwat, tapi maaf bukan karena apa-apa tapi lebih karena dorongan yang itu, kata dokter sih ini ada hubungannya dengan libido kami, makanya kami akan selalu mencari cara agar bisa untuk terus dekat dengan kalian, apakah itu lewat Telepon, sms, chatting, bertemu muka, apalagi kalo kalian mau jadi pacar kami, minimal kami bisa pegangan tangan dengan kalian, karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.

Pengakuan & pesan para akhwat untuk para ikhwan

1. kami itu senang jika diperhatikan, apalagi jika kalian adalah ikhwan yang dewasa, atau ikhwan yang alim, atau ikhwan yang cool, padahal kami belum mampu berhijab secara baik, karena itu tundukkanlah pandangan kalian dengan makna yang sebenarnya, dan janganlah kalian ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.

2. kami juga senang mendengar kalian berbicara dengan dan tentang kami, rasanya jadi gimana gitu, karena itu cukupkanlah pembicaraan kalian jika kalian mulai memberi pujian kepada kami meskipun itu hanya sebuah pujian kecil.

3. kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati akan kalian para ikhwan, ketika kami merasa para kalian dapat menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayang-bayang kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami mencurahkan isi hati kami kepada kalian.

4. kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para ikhwan, tapi maaf..bukan karena apa-apa tapi lebih karena perhatian yang kalian berikan kepada kami, meskipun sesungguhnya kami sangat malu akan hal ini, terkadang kami pun terlepas kata dan laku, yang malah menjadikan kami dan kalian semakin tak mengenal batas, karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.

Sabtu, 10 April 2010

Bermimpilah Setinggi Langit

“Cita-cita adalah sebuah mimpi yang bertanggal”

-Salim A Fillah-

Mimpi, sebuah kata yang mungkin, bagi kita, berkaitan dengan tidur, yang katanya merupakan bunga tidur dan mungkin akan terlupa ketika kita bangun. Tapi dalam kasus ini, mimpi itu adalah sebuah cita-cita, keinginan, harapan, doa, dan sebuah lecutan semangat luar biasa yang membuat diri kita menjadi semakin maju. Sobat, sudah sejauh apa mimpi-mimpi, atau sebut saja cita-cita, pernah kita buat? Ingat saja, apa sih keinginan terbesar sobat dalam hidup ini? Jika dalam hitungan detik sobat belum mampu menerjemahkan dengan gamblang keinginan-keinginan tersebut, itu berarti sobat belum mampu bermimpi. Wahhh,, sayang sekali, padahal mimpi itu gratis loh~~. Dengan mimpi, kita bisa membuat rancangan hidup kita ke depan, tentang apa yang kita inginkan, apa yang boleh kita lakukan untuk mendukung mimpi kita, serta untuk menentukan apa-apa saja yang sebaiknya kita hindari untuk menjauhkan mimpi kita dari sebuah kegagalan. Ketika kita membuat rancangan kehidupan, maka semua usaha kita akan terfokuskan pada hal tersebut, dan membuat hidup kita lebih terarah. Selain itu dengan menciptakan mimpi-mimpi, kita bisa tahu seberapa majukah kehidupan kita di tiap waktunya, apakah kita sudah berjalan maju mendekati mimpi kita, atau malah mundur teratur dan memaksa kita merelakan mimpi-mimpi kita menguap, menjauh dari realita.

Percaya diri, dan bermimpilah setinggi mungkin, sah sah saja jika mimpi kita terasa begitu fantastik. Tulislah mimpi-mimpimu! Buatlah mimpi-mimpi itu memiliki detail yang jelas. Sebanyak apapun, setinggi apapun, sesulit apapun.. Karena tidak ada kata mustahil jika Allah berkehendak. Dan yang paling penting, ujung dari sebuah usaha adalah tawakkal~~ berserah diri pada Allah. Mintalah agar mimpi-mimpi itu dengan mudah bisa teraih dan tentunya dengan ridlo Allah. Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Semoga dengan mimpi-mimpi itu kita menjadi manusia yang berilmu dan bermanfaat dalam hidup. Selamat Bermimpi~~